Google+ Badge

Sabtu, 22 September 2012

makalah terumbu karang


BAB  I  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan terbesar dan secara geografis terletak di antara Samudera Pasifik dan  Samudera  Hindia,  keanekaragaman hayati  laut  Indonesia  tak  tehitung  jumlahnya.  Terumbu karang  Indonesia  sangat  beraneka  ragam  dan  memegang  peranan  yang  sangat penting  dalam menjaga  keseimbangan  lingkungan  dan  menyumbangkan  stabilitas  fisik  pada  garis  pantai tetangga  sekitarnya.  Oleh karena  itu  harus  dilindungi  dan  dikembangkan  secara  terus  menerus baik untuk kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Terumbu  karang  sangat  mudah  terpengaruh  oleh  kondisi  lingkungan  sekitarnya  baik  secara fisik juga biologis. Akibat kombinasi dampak negatif langsung dan tidak langsung pada terumbu karang Indonesia, sebagian besar terumbu karang di wilayah Indonesia saat ini sudah mengalami kerusakan yang sangat parah. Bagaimanapun juga, tekanan terhadap keberadaan terumbu karang paling banyak  diakibatkan  oleh  kegiatan  manusia,  sehingga  perlu  dilakukan  langkah-langkah pencegahan. Peningkatan kegiatan manusia sepanjang garis pantai semakin memperparah kondisi terumbu karang.Oleh karena itu merupakan kebutuhan mendesak untuk menerapkan konservasi dan rencana-rencana pengelolaan yang baik untuk melindungi terumbu karang dari kerusakan yang semakin parah. Langkah dan kebijakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi ancaman terhadap terumbu karang  di  Indonesia  adalah  dengan  meningkatkan  kesadaran  masyarakat  terhadap perlunya menjaga kelestarian terumbu karang dan  meningkatkan  keterlibatan semua pihak dalam menjaga kelestarian terumbu karang di Indonesia.
1.2 Identifikasi Masalah
1.      Bagaimana kondisi terumbu karang di Indonesia.
2.      Apa penyebab – penyebab kerusakan yang terjadi pada terumbu karang di Indonesia dan bahayanya terhadap lingkungan hidup.
3.      Apa saja upaya – upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan terumbu karang dari kerusakan .
1.3  Maksud dan Tujuan
1.      Dapat mengetahui kondisi terumbu karang di Indonesia.
2.      Mempelajari mengenai fungsi dan manfaat terumbu karang.
3.      Dapat mengetahui sebab – sebab kerusakan terumbu karang yang selama ini terjadi dan dampaknya bagi lingkungan.
4.      Dapat mengetahui hal – hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan terumbu karang.
1.4 Kegunaan Penulisan
Dari  hasil  karya  tulis  ini  diharapkan  dapat  memberi  informasi  yang  bermanfaat.  Pertama, dapat  memberi  gambaran  kondisi  terumbu  karang  di  Indonesia  yang  sudah  sangat memprihatinkan. Kedua, dapat memberi informasi mengenai terumbu karang, baik fungsi dan manfaatnya  bagi  masyarakat.  Ketiga,  penyebab  kerusakan  terumbu  karang  yang  selama  ini telah  terjadi  di  perairan  Indonesia.  Keempat,  dapat  mengetahui  dan  ikut  serta  dalam  upaya penyelamatan  lingkungan,  khususnya  terumbu  karang.  Kelima,  dapat  meningkatkan kesadaran serta ikut terlibat dalam menjaga kelestarian terumbu karang di Indonesia.
1.5 Metodologi penulisan
            Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini penilis menggunakan studi kepestakaan, yaitu penulis mencari buku-buku yang berubungan dengan Terumbu Karang. Selain dari buku-buku penulis juga mengambil materi dari internet dan artikel.






















BAB  II
TERUMBU KARANG
2.1 Pengertian Terumbu Karang
Terumbu Karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama. Terumbu  karang  merupakan  kumpulan  fauna laut  yang  berkumpul  menjadi  satu  membentuk terumbu. Struktur tubuh karang banyak terdiri atas kalsium dan karbon. Hewan ini hidup dengan memakan berbagai mikroorganisme yang hidup melayang di kolom perairan laut.Terumbu  karang  adalah  struktur  hidup  yang  terbesar  dan  tertua  di  dunia.  Untuk  sampai  ke kondisi  yang  sekarang,  terumbu  karang  membutuhkan  waktu  berjuta  tahun.  Tergantung  dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa milimeter saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saja saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta  tahun  silam.  Terumbu  Karang  menjadi  rumah  bagi  ribuan  spesies  makhluk  hidup.  Jika rumahnya  saja  dalam  kondisi  tidak  baik  atau  bahkan  hancur,  bisa  dibayangkan  berapa  banyak makhluk hidup yang terancam punah. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies dapat dijumpai pada terumbu karang. Terumbu karang lebih banyak mengandung hewan vertebrata. Beberapa jenis ikan seperti ikan kepe-kepe dan betol menghabiskan seluruh waktunya di terumbu karang, sedangkan ikan lain seperti ikan hiu atau ikan kuwe lebih banyak menggunakan waktunya di terumbu karang untuk mencari makan. Udang lobster, ikan scorpion dan beberapa jenis ikan karang lainnya diterumbu karang bagi mereka adalah sebagai tempat bersarang dan memijah. Terumbu karang yang beraneka ragam bentuknya tersebut memberikan tempat persembunyian yang baik bagi iakn. Di situ hidup banyak jenis ikan yang warnanya indah.
Gmb. Jaring makanan ekosistem Terumbu karang (www. blueseafer.wordpress.com)
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.
Kondisi Optimum

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang. Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis. Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, oksigen-oksigen hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya.

2.2.1 Jenis-Jenis Terumbu Karang
2.2.1.1 Berdasarkan letak
a. Terumbu karang tepi ( fringing reefs
Terumbu  karang  tepi  atau  karang  penerus  berkembang  di  mayoritas  pesisir  pantai  dari pulau-pulau besar.  Perkembangannya  bisa  mencapai kedalaman  40  meter dengan  pertumbuhan ke  atas  dan  ke  arah  luar  menuju  laut  lepas.  Dalam  proses  perkembangannya,  terumbu  ini berbentuk  melingkar  yang  ditandai  dengan  adanya  bentukan  ban  atau  bagian  endapan  karang mati  yang  mengelilingi  pulau.  Pada  pantai  yang  curam,  pertumbuhan  terumbu  jelas  mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
b. Terumbu karang penghalang (barrier reefs
Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif   jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah  laut  lepas  dengan  dibatasi  oleh  perairan  berkedalaman  hingga  75  meter.  Terkadang membentuk  lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan  pulau  karang  yang  terputus-putus.  Contoh:  Batuan  Tengah (Bintan,  Kepulauan  Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).
c. Terumbu karang cincin ( atolls
Terumbu  karang  yang  berbentuk  cincin  yang  mengelilingi  batas  dari  pulau-pulau vulkanik  yang  tenggelam  sehingga  tidak  terdapat  perbatasan  dengan  daratan.  Menurut  Darwin, terumbu  karang  cincin  merupakan  proses  lanjutan  dari  terumbu  karang  penghalang,  dengan kedalaman  rata-rata  45  meter.  Contoh:  Taka  Bone  Rate (Sulawesi),  Maratua (Kalimantan Selatan), Pulau Dana (NTT), Mapia (Papua).

d. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs
Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh:  Kepulauan Seribu (DKI Jakarta),  Kepulauan Ujung Batu (Aceh).
2.2.1.2 Berdasarkan Zonasi

a. Terumbu yang menghadap angin

Terumbu yang menghadap angin (dalam bahasa Inggris: Windward reef) Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di lereng terumbu, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur. Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu, di bagian atas teras terumbu terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu yang sangat dangkal.

b. Terumbu yang membelakangi angin

Terumbu yang membelakangi angin (Leeward reef) merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.

2.2.1.3 Berdasarkan kepada Kemampuan memproduksi Kapur

a.       Karang hermatipik

Karang hermatifik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan didaerah tropis. Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat fototeopik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut.

b.      Karang ahermatipik.

Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas diseluruh dunia. Perbedaan utama karang Hermatipik dan karang ahermatipik adalah adanya simbiosis mutualisme antara karang hermatipik dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae unisular (Dinoflagellata unisular), seperti Gymnodi niummicroadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan fotosistesis. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang.

2.2.1.4 Berdasarkan Bentuk dan Tempat Tumbuh

a.       Terumbu (reef)

Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup) di laut dangkal.

b.      Karang (koral)

Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota Filum Coelenterata yang hanya mempunyai stadium polip. Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleratina) merupakan penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas.

c.       Karang terumbu

Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.

d.      Terumbu karang

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton.
2.2.2 Kondisi Yang Baik Bagi Terumbu Karang
Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° - 29° C. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat  lambat.  Karena  itulah  terumbu  karang  banyak  ditemukan  di  perairan  tropis  seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewari aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Karang  membutuhkan  perairan  dangkal  dan  bersih  yang  dapat  ditembus  cahaya  matahari yang  digunakan  oleh  zooxanthellae untuk  ber-fotosintesis.  Pertumbuhan  karang  pembentuk terumbu  pada  kedalaman  18  -  29  m  sangat  lambat  tetapi  masih  ditemukan  hingga  kedalaman lebih dari 90 m. Karang  memerlukan  salinitas  yang  tinggi  untuk  tumbuh,  oleh  karena  itu,  di  sekitar  mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.
2.3 Fungsi Terumbu Karang
1.      Pelindung ekosistem pantai. 
Terumbu  karang  akan  menahan  dan  memecah  energi  gelombang  sehingga  mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya.
2.      Terumbu karang  sebagai penghasil oksigen. 
Terumbu karang memiliki kemampuan untuk memproduksi oksigen sama seperti fungsi hutan di daratan, sehingga menjadi habitat yang nyaman bagi biota laut.
3.      Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup.
Terumbu karang  menjadi  tempat bagi  hewan dan  tanaman yang berkumpul   untuk  mencari makan, berkembang biak, membesarkan anaknya, dan berlindung. Bagi manusia, ini artinya terumbu  karang  mempunyai  potensial  perikanan  yang  sangat  besar,  baik  untuk  sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan  25  ton  ikan  per  tahunnya.  Sekitar  300  juta  orang  di  dunia  menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang
4.      Sumber obat-obatan. 
Pada  terumbu  karang  banyak  terdapat  bahan-bahan  kimia  yang  diperkirakan  bisa  menjadi obat  bagi  manusia.  Saat  ini  sudah  banyak  dilakukan  berbagai  penelitian  mengenai  bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai penyakit.
5.      Objek wisata . 
Terumbu  karang  yang  bagus  akan  menarik  minat  wisatawan  pada  kegiatan  diving,  karena variasi  terumbu  karang  yang  berwarna-warni  dan  bentuk  yang  memikat  merupakan  atraksi tersendiri  bagi  wisatawan  baik  asing  maupun  domestik.  Diperkirakan  sekitar  20  juta penyelam,  menyelam  dan  menikmati  terumbu  karang  per  tahun. Hal  ini  dapat  memberikan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar.
6.      Daerah Penelitian  
Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahuinya.
7.      Mempunyai nilai spiritual  
Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting. Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini.
Menurut Moberg and Folke (1999) dalam Cesar (2000) menyatakan bahwa fungsi ekosistem terumbu karang yang mengacu kepada habitat, biologis atau proses ekosistem sebagai penyumbang barang maupun jasa. Untuk barang merupakan yang terkait dengan sumberdaya pulih seperti bahan makanan yaitu ikan, rumput laut dan tambang seperti pasir, karang. Sedangkan untuk jasa dari ekosistem terumbu karang dibedakan :
1. Jasa struktur fisik sebagai pelindung pantai.
2. Jasa biologi sebagai habitat dan dan suport mata rantai kehidupan.
3. Jasa biokimia sebagai fiksasi nitrogen.
4. Jasa informasi sebagai pencatatan iklim.
5. Jasa sosial dan budaya sebagai nilai keindahan, rekrasi dan permainan

2.4 Manfaat dari Terumbu Karang
Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi  maupun  ekonomi.  Jenis-jenis  manfaat  yang  terkandung  dalam  terumbu  karang  dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung :
a. Pemanfaatan  secara  langsung  oleh  manusia  adalah  pemanfaatan  sumber  daya  ikan (kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu  karang,  pariwisata,  penelitian  dan  pemanfaatan  biota  perairan  lainnya  yang terkandung di dalamnya.
b. Pemanfaatan  secara  tidak  langsung  adalah  seperti  fungsi  terumbu  karang  sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.
Menurut Suprihayono (2000) beberapa aktivitas pemanfaatan terumbu karang yaitu :

1.      Perikanan terumbu karang

Masalah perikanan merupakan bagian dari ekosistem bahkan keanekaragaman karang dapat mencerminkan keanekaragaman jenis ikan. Semakin beragam jenis terumbu karang akan semakin beraneka ragam pula jenis ikan yang hidup di ekosistem tersebut. Oleh karena itu masalah perikanan tidak bisa diabaikan pada pengelolaan ekosistem terumbu karang. Dengan meningkatnya jumlah penduduk saaat ini maka jumlah aktivitas penangkapan ikan di ekosistem terumbu karang juga meningkat. Apabila hal ini dilakukan secara intensif, maka kondisi ini memungkinkan terjadinya penurunan stock ikan di ekosistem terumbu karang. Keadaan ini akan memakan waktu lama untuk bisa pulih kembali. Pengelolaan yang efektif harus didasarkan pada pengetahuan biologis target spesies, sehingga teknik penangkapan yang tepat dapat ditentukan. Pengelolaan terumbu karang ini cenderung lebih banyak ditekankan pada pengambilan karang atau aktivitas manusia seperti pengeboman ikan karang, dan yang lainnnya secara tidak langsung dapat merusak karang.
2.      Aktivitas Pariwisata Bahari
Untuk menjaga kelestarian potensi sumberdaya hayati daerah-daerah wisata bahari, maka di Indonesia telah dibentuk suatu kerja sama pengembangan kepariwisataan (Touris Development Cooperation) yang modalnya berasal dari para investor lokal, pemerintah lokal dan regional dan masyarakat Badan Kerjasama Pariwisata dapat dijumpai di Nusa Dua Bali dan Manado. Adapun tugas badan ini diantaranya adalah
a.       Menjaga daya tarik masyarakat terhadap pengembangan pariwisata.
b.      Membantu pengusaha menempati kebijaksanaan pemerintah.
c.       Pengadaaan dana pinjaman untuk pembangunan infra struktur.
d.      Pemanfaatan taman laut untuk tujuan wisata pada umumnya diperoleh melalui agen- agen pariwisata dan scuba diving. Namun kedua agen atau arganisasi tersebut lebih mementingkan profit daripada harapan konservasi yaitu pelestarian sumberdaya alam laut. Sebagai akibatnya aktivitas mereka sering menimbulkan hal hal yang tidak diinginakan atau bertentangan dengan nilai estetika atau carrying capacity lingkungan laut.

3.      Aktivitas Pembangunan Daratan
Aktivitas pembangunan di daratan sangat menentukan baik buruknya kesehatan terumbu karang. Aktivitas pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik di daerah pantai akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem terumbu karang. Beberapa aktivitas seperti pembukaan hutan mangrove, penebangan hutan, intensifikasi pertanian, bersama-saa dengan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang jelek umumnya akan meningkatkan kekeruhan dan sedimentasi di daerah terumbu karang.
4.      Aktivitas Pembangunan di Laut

Aktivitas pembangunan di laut, seperti pembangunan darmaga pelabuhan, pengeboran minyak, penambangan karang, pengambilan pasir dan pengambilan karang dan kerang untuk cinderamata secara langsung maupun tidak langsung akan memebahayakan kehidupan terumbu karang. Konstruksi pier dan pengerukan alur pelayanan menaikkan kekeruhan demikian juga dengan eksploitasi dan produksi minyak lepas pantai, selain itu tumpahan minyak tanker juga membahayakan terumbu karang seperti yang terjadi di jalur lintasan international.







BAB  III 
KONDISI TERUMBU KARANG DI INDONESIA

3.1 Persebaran dan Kondisi Terumbu Karang
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan panjang garis pantai lebih dari 95.000 km, serta lebih dari 17.000 pulau. Terumbu karang yang luas melindungi kepulauan Indonesia. Diperkirakan  luas  terumbu  karang  di  Indonesia  sekitar  51.000  km2.  Ini  belum  mencakup  terumbu karang di wilayah terpencil yang belum dipetakan atau yang berada di perairan agak dalam. Terdapat 18%  dari  terumbu  karang  di  dunia  berada  di  perairan  Indonesia.  Indonesia  juga  memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi di dunia  meliputi  590 jenis karang batu, 2500 jenis  Molusca, 1500 jenis udang-udangan dan  lebih dari 2500 jenis ikan. Terumbu karang di Indonesia memberikan keuntungan  pendapatan  sebesar  US$1,6  milyar/tahun. Dengan  kondisi  alam  dan  keanekaragaman hayati  yang  begitu  banyak yang  dimiliki  Indonesia,  seharusnya  bisa  dimanfaatkan  dengan  sebaik-baiknya. Terumbu karang  di  Indonesia yang  sangat beragam dan  bernilai,  mengalami ancaman  yang sangat  besar.  Ketergantungan  yang  tinggi  terhadap  sumber daya  laut  telah  menyebabkan  eksploitasi besar-besaran  dan  kerusakan  terumbu  karang,  terutama  yang  berdekatan  dengan  pusat  pemukiman penduduk. Selama  50  tahun  terakhir,  proporsi  penurunan  kondisi  terumbu  karang  Indonesia  telah meningkat  dari  10%  menjadi  50%.  Hasil  survei  P2O  LIPI  pada  tahun  2006  menyebutkan  bahwa hanya 5,23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik. Penangkapan ikan secara ilegal  telah meluas ke banyak pulau di Indonesia, bahkan di daerah yang dilindungi. Hal ini bukan hanya mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar tapi juga kerusakan lingkungan yang sangat parah. Keberadaan  pengelolaan  dan  institusi  khusus  untuk melindungi  terumbu  karang  Indonesia sangatlah  sedikit.  Hingga  tahun  1999,  tidak  ada  institusi  pemerintah  yang  memfokuskan  diri  pada pengelolaan  sumber daya  pesisir.  Pemerintah  Indonesia  tidak  dapat  memenuhi  target  pengelolaan yang direncanakan, karena tidak adanya koordinasi serta kondisi politik yang bergejolak. Eksploitasi berlebihan pada sumber daya hayati sekarang ini menjadi isu kritis, dan menjadi masalah  besar  dalam  manajemen  keanekaragaman  hayati  khususnya keanekaragaman  biota  laut. Apalagi kerusakan terumbu karang (coral reef) yang banyak menyita perhatian, karena perannya yang sentral dalam ekosistem laut.
(www. blueseafer.wordpress.com)
(sumber : www.tumblr.com)



3.2 Penyebab Kerusakan Terumbu Karang
Sejak  dahulu  penduduk  yang  tinggal  di  dekat  pantai  berhubungan  dengan  terumbu  karang dalam kondisi yang harmonis. Namun dalam beberapa waktu terakhir ini, melalui adanya teknologi baru  dan  naiknya  permintaan  terhadap  produksi  laut  menyebabkan  terumbu  karang  menjadi  obyek dari  perusakan  yang  serius.  Banyak  ilmuwan  melihat  bahwa  penyebab  utama  kerusakan  terumbu karang  adalah  manusia  (anthropogenic  impact),  misalnya  melalui  kegiatan  tangkap  lebih  (over-exploitation)  terhadap  hasil  laut,  penggunaan  teknologi  yang  merusak  (seperti  potassium  cyanide, bom  ikan,  muro  ami  dan  lain-lain),  erosi,  polusi  industri  dan  mismanajemen  dari  kegiatan pertambangan telah merusak terumbu karang baik secara langsung maupun tidak langsung. Akar permasalahan dari timbulnya ulah manusia untuk merusak terumbu karang adalah :
a.       Kependudukan dan Kemiskinan
b.      Tingkat Konsumsi Berlebihan dan Kesenjangan Sumber daya Alam
c.       Kelembagaan dan Penegakan Hukum
d.      Rendahnya Pemahaman tentang Ekosisteme.
e.       Kegagalan sistem Ekonomi dan Kebijakan dalam Penilaian Ekosistem
3.2.1 Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pembangunan di Wilayah Pesisir
Wilayah  pesisir  yang  tidak  dikelola  dengan  baik  dapat  mengancam  keselamatan  terumbu karang akibat sedimentasi dan pencemaran perairan laut. Pengerukan, reklamasi, penambangan pasir, pembuangan  limbah  padat  dan  cair,  dan  konstruksi  bangunan,  semuanya  dapat  mengurangi pertumbuhan  karang,  bahkan  menyebabkan  pemutihan  karang  dalam  kasus-kasus  yang  berat. Ancaman terhadap terumbu karang akibat pembangunan wilayah pesisir dianalisis berdasarkan jarak ke pusat pemukiman penduduk, luas area pusat pemukiman, tingkat pertumbuhan penduduk, dan jarak ke pangkalan udara, pertambangan, fasilitas pariwisata, dan pusat fasilitas selam. Pemanfaatan sumberdaya dan aktivitas pembangunan  menimbulkan dampak terhadap lingkunagan ekosistem pesisir dan pulau – pulau kecil. Dampak tersebut dapat berupa ancaman terhadap penurunan populasi, keanekaragaman biota, serta kerusakan ekosistem dan pantai.
Jenis ancaman gangguan sumberdaya alam pesisir di provinsi bengkulu dapat dibedakan dari faktor penyebab yaitu ancaman ekploitasi dan ancaman pencemaran serta kerusakan akibat pembangunan. Ancaman akibat kegiatan ekploitasi meyebabkan degradasi beberapa sumber daya alam diantaranya kerusakan terumbu karang, penurunan populasi ikan,pengurangan habitat hutan bakau dan padang lamun. Kerusakan terumbu karang dan penurunan ikan karang disebabkan pengboman karang. Penurunan ekosistem bakau disebabkan penebangan pohon dan pembukaan lahan tambak.
Ancaman akibat aktivitas pembangunan berupa fisik seperti pengerukan dan pengurungan, limbah pencemaran dan konversi lahan.meningkatnya kerusakan terumbu karang , dewasa ini telah mengkhawatirkan banyak kalangan, karena dengan rusaknya terumbu karang akan banayak mempengaruhi status keanekaragaman hayati laut yang kita miliki selama ini. Kerusakan terumbu karang terutama diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan peladek, pen ggunaan sianida, untuk menangkap ikan, sedimentasi dan pencemaran. Pemnafaatan potensi terumbu karang tidak jarang hanya berpegang pada salah satu fungsi yang lain yaitu sebagai penyokong kehidupan dan sosial budaya.
3.2.2 Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pencemaran
3.2.2.1 Pencemaran Laut
Aktivitas  di  laut  yang  mengancam  terumbu  karang  antara  lain  pencemaran  dari  pelabuhan, tumpahan  minyak,  pembuangan  bangkai  kapal,  pembuangan  sampah  dari  atas  kapal,  dan  akibat langsung dari pelemparan jangkar kapal. Produk-produk minyak bumi dan kimia  lain yang dibuang di dekat perairan pantai, pada akhirnya  akan mencapai terumbu karang. Bahan-bahan pencemar ini akan meracuni polip karang dan biota laut lainnya. Kerusakan ekositem terumbu karang tidak terlepas dari aktivitas manusia baiok di daratan maupun pada ekosistem peseisir dan lautan kegiatan manusia baik di daratan seperti industri, pertanian, rumah tangga akhir nya kana dapat ma imbulkan dampak negatif  bukan saja pada perairan tetapi juga pada ekosdistem terumbu karang atau pesisir dsan lautan.
                                  











Peta Terumbu Karang Yang terancan dari Pencemaran dari Air Laut
3.2.2.2 Sedimentasi dan Pencemaran Darat
Penebangan  hutan,  perubahan  tata  guna  lahan,  dan  praktek  pertanian  yang  buruk,  semuanya menyebabkan peningkatan sedimentasi dan masuknya unsur hara ke daerah tangkapan air. Sedimen dalam  kolom  air  dapat  sangat  mempengaruhi  pertumbuhan  karang,  atau  bahkan  menyebabkan kematian  karang.  Kandungan  unsur  hara  yang  tinggi  dari  aliran  sungai  dapat  merangsang pertumbuhan alga yang beracun. Konstruksi di daratan dan sepanjang pantai, penambangan atau pertanian di daerah aliran sungai ataupun penebangan hutan tropis menyebabkan tanah mengalami  erosi dan terbawa melalui aliran sungai ke  laut dan  terumbu karang.  Kotoran-kotoran, lumpur ataupun pasir-pasir ini dapat membuat air menjadi kotor dan tidak jernih lagi sehingga karang tidak dapat bertahan  hidup karena kurangnya cahaya. Hutan mangrove dan padang lamun yang berfungsi sebagai penyaring juga menjadi rusak  dan menyebabkan sedimen dapat mencapai terumbu karang. Penebangan  hutan mangrove untuk keperluan kayu bakar dapat merubah area hutan mangrove tesebut menjadi pantai terbuka. Dengan membuka tambak-tambak udang dapat merusak tempat penyediaan udang alami.
Pengaruh Sedimentasi pada perkembangan terumbu karang yang tersebar di lautan
3.2.2.3 Aliran Drainase 
Aliran drainase yang mengandung pupuk dan  kotoran yang terbuang ke perairan pantaiyang mendorong pertumbuhan  algae yang akan menghambat pertumbuhan polip karang, mengurangi asupan  cahaya dan oksigen. Penangkapan secara berlebihan membuat masalah  ini bertambah  buruk karena ikan-ikan yang biasanya makan algae juga ikuk tertangkap. 
3.2.2.4 Penangkapan Ikan dengan Sianida 
Kapal-kapal penangkap ikan seringkali menggunakan Sianida dan racun-racun lain untuk menangkap ikan-ikan karang yang berharga. Metode ini  acap digunakan untuk menangkap ikan-ikan tropis untuk akuarium dan sekarang digunakan untuk menangkap ikan-ikan sebagai konsumsi restoran-restoran yang memakai  ikan hidup.
3.2.3 Eksploitasi
Penangkapan  ikan  secara  berlebihan memberikan  dampak  perubahan  pada ukuran,  tingkat kelimpahan,  dan komposisi  jenis  ikan.  Hal  itu  disebabkan ikan  turut  berperan  di  dalam  mencapai keseimbangan yang harmonis di dalam ekosistem terumbu karang. Penangkapan besar-besaran akan menyebabkan  terumbukarang  menjadi  rapuh  terhadap  gangguan dari  alam  maupun  gangguan  dari kegiatan manusia.Penangkapan ikan dengan menggunakan racun dan pengeboman ikan merupakan praktek yang umum dilakukan, yang memberikan dampak sangat negatif bagi terumbu karang. Penangkapan ikan dengan  racun  akan  melepaskan  racun  sianida  ke  daerah  terumbu  karang,  yang  kemudian  akan membunuh  atau  membius  ikan-ikan.  Karang  yang  terpapar  sianida berulang  kali  akan  mengalami pemutihan dan kematian. Pengeboman ikan dengan dinamit atau dengan racikan bom lainnya, akan dapat  menghancurkan  struktur  terumbu  karang,  dan  membunuh  banyak  sekali  ikan  yang  ada  di sekelilingnya.

3.2.4 Perubahan Iklim Global
Isu  mengenai  global  warming  yang  banyak  dibicarakan,  berdampak  besar  pada  terumbu karang.  Peningkatan  suhu  permukaan  laut  telah  menyebabkan  pemutihan  karang (bleaching) yang lebih  parah  dan  lebih  sering.  Peristiwa-peristiwa  alam  seperti  El  Nino dan  Tsunami juga menyebabkan kerusakan yang serius terhadap kelangsungan hidup terumbu karang.
3.3 Dampak Dari Kerusakan Terumbu Karang
Ancaman  terhadap kelangsungan  hidup  terumbu  karang,  mengakibatkan  kerusakan lingkungan  yang  besar.  Terumbu  karang  yang  merupakan  sentral  dari  ekosistem  laut  sangat mempengaruhi kehidupan di laut.  Komposisi oksigen di laut menjadi berkurang.  Banyak biota laut, baik hewan maupun tumbuhan akan ikut musnah jika terumbu karang menjadi rusak. Selain itu, di daerah-daerah  pesisir  pantai  akan  mudah  terjadi  abrasi,  mengakibatkan  perubahan  lingkungan  yang drastis dan membuat tidak adanya perlindungan terhadap daerah pantai.  Berbagai pencemaran yang terjadi  bukan  hanya  merusak  laut  tapi  juga  mengancam  kesehatan  manusia.  Ikan  yang  ditangkap dengan menggunakan racun kemudian di konsumsi sangat membahayakan manusia.







BAB  IV
UPAYA-UPAYA UNTUK MENYELAMATKAN TERUMBU KARANG

4.1 Perlunya Kesadaran Manusia
Dalam upaya menyelamatkan terumbu karang, yang paling utama adalah perlunya kesadaran dari manusia untuk menjaga dan melestarikan terumbu karang. Untuk itu, diperlukan pemberian informasi, pengetahuan,  dan  wawasan  mengenai  terumbu  karang.  Fungsi  dari  terumbu  karang,  manfaatnya, kondisi  dari  terumbu  karang  saat  ini,  dan  apa  yang  akan  terjadi  jika  kerusakan  terumbu  karang  ini terus berlanjut. Dengan adanya pendidikan mengenai terumbu karang, maka akan ada rasa memiliki sehingga manusia bisa peduli dan melindungi terumbu karang. Beberapa hal berikut yang dapat dilakukan secara individu untuk mengurangi kerusakan terumbu karang :
v  Terapkan  prinsip  3R  (reduce-reuse-recycle)  dan  hemat  energi.  Terumbu  karang  adalah ekosistem  yang  sangat  peka  terhadap  perubahan  iklim.  Kenaikan  suhu  sedikit  saja  dapat memicu pemutihan karang (coral bleaching). Pemutihan karang yang besar dapat diikuti oleh kematian  massal  terumbu  karang.  Jadi  apapun  yang  dapat  kita  lakukan  untuk  mengurangi dampak global warming, akan sangat membantu terumbu karang.
v  Buang  sampah  pada  tempatnya,  tidak  membuang  sampah  ke  sungai  yang  kemudian  akan bermuara ke laut. Hewan laut besar sering terkait pada sampah-sampah sehingga mengganggu gerakannya.  Misalnya  sampah  plastik  yang  transparan  diperkirakan  kadang  dimakan  oleh penyu karena tampak seperti ubur-ubur. Sampah plastik ini akan mengganggu pencernaanya.
v  Bergabung  dengan  organisasi  pecinta  lingkungan.  Saling  berbagi  ilmu,  pendapat,  dan berdiskusi. Membangun trend hidup ramah lingkungan.
v  Bergabung  dengan  gerakan-gerakan  sukarelawan,  atau  terlibat  aktif  dalam  kegiatan lingkungan.
v  Bagi  penyelam  pemula  atau  yang  sedang  belajar  sebaiknya  melakukan penyelaman  di perairan yang tidak ber-terumbu karang.
4.2 Peranan Pemerintah
Keikutsertaan  pemerintah  dalam  melestarikan  terumbu  karang  sangat  penting.  Pemerintah sebagai pengatur dan pengawas masyarakat. Pemerintah dapat menetapkan kebijakan dan peraturan-peraturan  untuk  menyelamatkan  terumbu  karang.  Membuat  rencana-rencana  perbaikan  lingkungan yang  sudah  rusak  dan  mencegah  kerusakan  terumbu  karang.  Pemerintah  juga  dapat  bekerja  sama dengan  lembaga-lembaga  atau  organisasi-organisasi  lingkungan  untuk  menjaga  kelestarian  terumbu karang.  Misalnya  melakukan  kampanye-kampanye  lingkungan  hidup  bekerjasama  dengan  media-media atau organisasi seperti National Geographic Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Reef Check Indonesia, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Yayasan TERANGI  (Terumbu Karang Indonesia)  dan  lainnya  untuk  mengawasi  kelangsungan  hidup  terumbu  karang.  Baik  mengawasi eksploitasi  karena  ulah  manusia,  pertumbuhan  terumbu  karang  yang  sedang  direstorasi,  dan pengawasan daerah terumbu karang yang terancam di Indonesia. Upaya  restorasi adalah tindakan untuk membawa ekosistem yang telah terdegradasi kembali menjadi semirip mungkin dengan kondisi aslinya sedangkan tujuan utama restorasi terumbu karang adalah untuk peningkatan kualitas terumbu yang terdegradasi dalam hal struktur dan fungsi ekosistem. Mencakup restorasi  fisik  dan  restorasi  biologi.  Restorasi  fisik  lebih   mengutamakan  perbaikan terumbu dengan fokus pendekatan teknik, dan restorasi biologis yang terfokus untuk mengembalikan biota berikut proses ekologis ke  keadaan semula. Pemerintah  harus  benar-benar  merealisasikan  upaya-upaya  untuk  menyelamatkan  terumbu karang.  Pemerintah perlu  bersikap tegas  mengenai  kerusakan lingkungan  yang terjadi  dan berusaha dengan sebaik-baiknya melindungi terumbu karang yang juga merupakan aset negara.
4.3 Upaya Perlindungan Lingkungan Secara Global
Perubahan – perubahan lingkungan yang terjadi akan berdampak pada perubahan lingkungan secara global. Antara satu negara dengan negara lain memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kerusakan lingkungan. Banyak deklarasi-deklarasi yang disepakati oleh banyak negara dalam upaya menyelamatkan  lingkungan.  Begitu  pula  dengan  menyelamatkan  terumbu  karang.  Telah  banyak kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui oleh banyak negara untuk bekerja sama dalam menjaga lingkungan.  Yang  paling terakhir dilakukannya  World Ocean Conference (WOC)  atau disebut  juga  Manado  Ocean  Declare pada  tanggal  11-15 Mei 2009 di  Manado.  Deklarasi  ini disepakati  oleh  61  negara,  termasuk  negara-negara  Coral  Triangle  Initiative  Summit yang merupakan kawasan yang kaya akan terumbu karang. Dalam deklarasi ini disepakati komitmen bersama  mengenai  penyelamatan  lingkungan  laut  dari  ancaman  global  warming  dan  komitmen program penyelamatan lingkungan laut secara berkelanjutan di tiap negara. Kampanye  lingkungan  hidup  seperti  ini  sangat  baik  bagi  upaya  penyelamatan  lingkungan. Apalagi  dilakukan  secara  global  yang  menjaring  banyak  pihak  sehingga  diharapkan  dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan lebih baik lagi.

(www.id.wikipedia.org/terumbu-karang)
BAB  V  PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Terumbu karang merupakan organisme yang sangat peka terhadap perubahan –perubahan yang terjadi pada lingkungan di sekitar nya, dengan sifat nya menjadikan organisme ini sangat rentan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh manusia maupun  secara alami.
Ekosistem terumbu karang di laut sangat penting. Karena terumbu karang merupakan tempat hidup dan tempat mencari makan dari berbagai jenis ikan yang ada di laut. Terumbu karang juga menjaga kelestarian dari luat, bila terumbu karang rusak maka ekosistemnya akan rusak. Pemulihan terumbu karang yang rusak sangatlah lama memerlukan waktu ratusan taun untuk menumbuhkan terumbu karang agar dapat menjadi tempat yang baik untuk hidup ikan.
Kelakukan buruk yang dilakukan manusia mengancam ekosistem terumbu karang. Banyak yang dilakukan oleh manusia yang merusak terumbu karang, mereka tidak sadar bahwa apabila terumbu karang rusak maka laut sebagi sumber mata pencarian mereka juga akan ikut rusak. beberapa faktor yang menyebabkan rusak nya terumbu karanga adalah, sedimentasi, penangkapan  ikan menggunakan bahan peledak dan sianida,pengumpulan dan pengerukan,pemanasan global, pencemaran perairan laut dan tata kelola tempat  eisata bahari yang tida lestari
Beberapa upaya yang dilakukan dalam usaha pemulihan terumbu karang diantaranya adalah Zonasi, rehabilitasi, peningkatan ikan karang dan mengurangi alga hidup yang bebas
5.2 Saran
a. Perlu di tingkatkan kesadaran masyarakat, khususnya yang berada di daerah pesisir pantai
b. Tidak membuang sampah sembarangan
c. Pemerintah arus lebih tegas dalam menegakkan hukum





DAFTAR PUSTAKA

Pujiatmoko. 2009. Pembahasan restorasi terumbu karang di Indonesia. http://atanitokyo.blogspot.com/2009/01/pembahasan-restorasi-terumbu-karang-di.html. 10 September 2009.
Dahuri R, Rais Y, Putra S, G, Sitepu, M.J, 2001. Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta
Guilcher Andre.  1988. Coral reef Geomorphology.  John Willey & Sons.Chhichester


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar